Bukan aku yang mencarimu, Bukan pula kamu yang mencariku tapi Allah lah yang mempertemukan dua hati yang berbeda atas nama cinta

Sabtu, 24 Maret 2012

Haru Biru Ukasayah r.a di hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah SAW

Dengan penuh renungan kupersembahkan ini untuk sahabat seimanku yang di rahmati Allah semoga bisa di ambil ibrah dan dijadikan sebagai Qudwah..

Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya. Mereka berkumpul mengelilingi beliau.

Rasul berkata : ”Wahai para shahabat hari ini, aku tawarkan kepada kalian. Barangsiapa di antara kalian pernah aku sakiti. Maka sekaranglah saatnya kalian mengqishash diriku   ( Membalasnya ) ”

Para sahabat hening, tak ada satupun yang mampu bersuara.....
Rasul mengulangi lagi perkataannya ” Wahai shahabat, kalau kalian pernah merasa aku sakiti silahkan saatnya kalian membalasnya ”

Para sahabat makin tertunduk...menangislah mereka...mereka merasa sebentar lagi masa-masa indah bersama Rasul tercinta akan berakhir....

Untuk ketiga kalinya Rasulullah berkata ” Silahkan siapa yang mau mengqishas diriku ”......

Tiba-tiba muncullah Ukasah Ra.
“ Saya ya Rasul…..saya akan mengqishas Anda ya Rasulullah…..”

Umar langsung mencabut pedangnya sambil berkata “ Apa yang akan kamu lakukan wahai Ukasah…pedang Umar yang menebas kepalamu kalau engkau berani menyakiti Rosulullah “

Baginda yang agung tersenyum “ Biarkan Ukasah ya Umar………. “
Abu Bakar pun maju…sambil berkata “ Wahai Ukasah, Abu Bakar dan keluarganya yang akan menebusnya ya Ukasyah “
Rasul pun melarang Abu Bakar membelanya.

Kemudian Ukasah berkata : ” Pada saat aku mengiringi engkau berperang cambukmu pernah mengenai punggungku ya Rasul..untuk itu kali ini aku ingin mencambukmu ya rasul....”

Para sahabat terdiam menahan amarah.................
akan tetapi rasul dengan tersenyum mempersilahkan Ukasah mengambil cambuknya.

Tidak cukup sampai di situ...Ukasah berkata : ”Ya rasul pada waktu cambukmu mengenai punggungku. Pada saat itu langsung mengenai kulit punggungku, karena tidak tertutup kain punggungku pada waktu itu. Untuk itu aku ingin punggungmu dibuka juga ya Rasulullah ”

Para sahabat makin geram dengan permintaan Ukasyah.

Rasul dengan tetap tersenyum sambil membuka kain yang dikenakannya.
Pada saat punggung baginda tercinta terbuka.

Maka seketika itu juga Ukasyah menubruk punggung Rasulullah, kemudian memeluk dan mencium punggung yang kemilau itu. Sambil menangis sesenggukan Ukasyah berkata ” Wahai Rasul Allah....maafkan aku.....aku hanya ingin memeluk dan mencium tubuhmu untuk yang terakhir kali...dan Aku ingin tetap bersama-sama Engkau Ya Rasul sampai di akhirat kelak.

Dan rasul pun berkata ” Doamu Insya Allah dikabulkan Allah wahai Ukasyah ”

------------------------------------------------
Sahabat, setiap kali saya membaca kisah ini, saya pasti menangis.
Walau saya coba untuk tidak menangis karena saya pernah membacanya, ternyata tetap tidak dapat aku menahan air mata ini...
Rindu ingin berjumpa dengan Rosulullah...

Akankah kita dapat berjumpa dengan Rosulullah yang sangat kita cintai?
Mencintai Rosulullah? Apa kah benar kita mencintainya?
Sejauh mana sunah-sunahnya kita amalkan? Sejauh mana kita mengidolakan beliau?
Dan akankah Rosulullah ingin berjumpa dengan kita? Kita yang kualitas keimanannya mungkin sangat jauh berbeda dengan sahabat2 beliau.... :(

Walaupun saya tahu bahwa beliau ingin sekali berjumpa dengan umatnya yang hidup jauh setelah kepergiannya (mengimani dan mencintainya walau tidak pernah berjumpa dan tahu rupanya)

Semoga Allah SWT memberikan kesempatan pada kita untuk dapat berkumpul bersama Rosulullah SAW di Akhirat kelak dengan kualitas keimanan kita yang jauh dari sempurna ini. Semoga Rosulullah SAW pun berkenan menerima kita sebagai umat yang dicintainya. Amin ...

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu
Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kukucup tanganmu
Moga mengalir keberkatan dalam diriku
Untuk mengikut jejak langkahmu

Ya Rasulullah Ya Habiballah
Tak pernah kutatap wajahmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kami rindu padamu
Allahumma Solli Ala Muhammad
Ya Rabbi Solli Alaihi Wasallim

Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kudakap dirimu
Tiada kata yang dapat aku ucapkan
Hanya tuhan saja yang tahu

Kutahu cintamu kepada umat
Umati kutahu bimbangnya kau tentang kami
Syafaatkan kami
Alangkah indahnya hidup ini
Andai dapat kutatap wajahmu

Kan pasti mengalir air mataku
Kerna pancaran ketenanganmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Terimalah kami sebagai umatmu
Ya Rasulullah Ya Habiballah
Kurniakanlah syafaatmu


tadinya mau mempersembahkan sebuah video movee nya renungan berhubung terlalu panjang jadi kupersembahkan dalam bentuk note saja semoga bermamfaat.

Al haqquminallah wa khoto mini "kebenaran selau dan tak pernah sirna datangnya dari Allah dan kehilafan hanya dilakukan yang berbagi note ini maafkan jika pernah salah dengan sahabat semua..

Nur Kaffah Ahkam

Arti Sebuah Pengorbanan

Muslimah shaleha yang di sayang Allah..
Berkorban rasanya hal yang paling sulit dilakukan, terkadang berkorban bukan hanya harta, tapi perasaan. Harta bisa dicari tapi perasaan mudah luka dan terkadang membekas sampai selamanya. Apakah saat ini muslimah merasa harus memilih salah satu diantara dua, sehingga salah satu harus ada yg dikorbankan, ataukah muslimah dihadapkan pada hal yg anda kasihi dan harus anda lepaskan, artinya berkorban. Dan kenapa seringkali hal yang harus kita korbankan itu adalah hal yang paling penting dalam hidup kita? Jawabannya adalah karena kalau kita berkorban hal yang tidak penting, bisa dikatakan itu bukan berkorban namanya, itu hal biasa saja.Jadi, ketika kita harus berkorban, apakah kita harus melakukannya?

Ana pernah membaca cerita sebuah kisah nyata mengenai seorang wanita yang sedang hamil. Ia adalah salah seorang aktifis yang menentang adanya aborsi. Ternyata ia sendiri dihadapkan pada keadaan yg mengharuskan dirinya mengaborsi kandungannya, mashallah sebab bayinya didiagonsa memiliki ketahanan tubuh yang rapuh, jika anak itu dilahirkan, umurnya hanya 2 hari saja. Dan bukan hanya itu saja, ada resiko yang akan mengakibatkan kematian si ibu kalau dia melahirkan anak tsb. Dokter menyarankan ia untuk mengugurkan kandungannya. Ia merasa terjepit diantara keadaan bahwa ia adalah seorang penentang aborsi sementara nyawanya terancam kalau ia tidak mengaborsi anak tsb. Namun ia berdoa dan ia mengambil suatu keputusan bahwa ia akan melahirkan anaknya. Ia berkata bahwa anak itu layak untuk hidup walaupun hidupnya hanya sebentar. Suaminya pasrah dan menerima keputusan tsb. Akhirnya ketika bayi itu lahir, ibunya meninggal. Pengorbanan si ibu ternyata tidak sia-sia, anak itu ternyata bertahan hidup selama 2 minggu dan ketika anak bayi itu meninggal, ia mendonorkan ginjal dan jantungnya untuk 2 nyawa bayi lain yang terancam meninggal. Ibu itu mengorbankan dirinya, agar bayi tersebut bisa menghidupkan nyawa bayi-bayi lain. Ternyata dalam suatu pengorbanan yg harus kita pilih,Allah memiliki rencanaNya sendiri, hanya tinggal maukah kita menjalaninya, maukah kita mengorbankan harta kita, perasaan kita, bahkan nyawa kita sekalipun? Untuk sesuatu yang lebih besar.

Maka ketika kita dihadapkan kepada pengorbanan, berdoalah kepada Tuhan, apakah yang menjadi kehendakNya, seperti ketika Ibrahim harus mengorbankan anak tercintanya, Ismail. Ketika Ibrahim pasrah kepada Allah dan ia mengorbankan anaknya, Allah memberikan berkat berlimpah-limpah dan berkali-kali lipat kepadanya. Jika Allah melakukan hal yang sama kepada Ibrahim, maka Ia-pun pasti akan melakukan hal yang sama kepada kita hamba-hamba-Nya juga.

Muslimah yang disayang Allah yakinlah …
Dalam pengorbanan, ada rencana Allah yang amat besar. Maukah kita berkorban untuk sesuatu yang akan kita dapatkan lebih besar,yang pastinya Lillahi ta'ala?

Semoga bermamfaat muslimah shaleha sekalian ^_^

Al haqquminallah wa khoto mini ( Kesempurnaan datangnya dari Allah dan kekurangan datangnya dari ana pribadi ) afwan minkum

“Unzhur mâ qâla wa lâ tanzhur man qâla.” (Prhatikanlah apa yang dikatakan dan janganlah kau prhatikan siapa yg mngatakan)


Andai suatu hari kelak aku juga seperti ini maka izinkan aku berjumpa kemabli dengan mereka di Jannah cinta-Mu

(Nur Kaffah)

7 Langit, 7 Malaikat, dan 7 Amal sang hamba

Jika ahir-ahir ini sahabat fillah facebooker lagi mengandrungi karya dengan menyuguhkan status , note, picture profil, grup, halaman yang berbau cinta syar'i namun kali ini berbeda dengan note yang akan saya sajikan maaf jika kurang berkenan..kali ini saya akan berbagi note yang berisi muhasabah yang apabila sahabat membacanya inshallah berkacalah kita pada diri sendiri , sudah kah pantas , dan sejauhmana yang kita lakukan sekarang??

selamat membaca ^_^
Add caption
 

Hadits dari Mu'adz bin Jabbal
Tujuh Langit, Tujuh Malaikat Penjaga dan Tujuh Amal Sang Hamba

Dari Ibnu Mubarak dan Khalid bin Ma'dan, mereka berkata kepada Mu'adz bin Jabal, "Mohon ceritakan kepada kami sebuah hadits yang telah Rasulullah ajarkan kepadamu, yang telah dihafal olehmu dan selalu diingat-ingatnya karena saking kerasnya hadits tersebut dan saking halus serta dalamnya makna ungkapannya. hadits manakah yang engkau anggap sebagai hadits terpenting?"

Mu'adz menjawab, "Baiklah, akan aku ceritakan..." Tiba-tiba Mu'adz menangis tersedu-sedu. Lama sekali tangisannya itu, hingga beberapa saat kemudian baru terdiam. Beliau kemudian berkata, "Emh, sungguh aku rindu sekali kepada Rasulullah. Ingin sekali aku bersua kembali dengan beliau...". Kemudian Mu'adz melanjutkan:
Suatu hari ketika aku menghadap Rasulullah Saw. yang suci, saat itu beliau tengah menunggangi untanya. Nabi kemudian menyuruhku untuk turut naik bersama beliau di belakangnya. Aku pun menaiki unta tersebut di belakang beliau. Kemudian aku melihat Rasulullah menengadah ke langit dan bersabda, "Segala kesyukuran hanyalah diperuntukkan bagi Allah yang telah menetapkan kepada setiap ciptaan-Nya apa-apa yang Dia kehendaki. Wahai Mu'adz....!

Labbaik, wahai penghulu para rasul....!

Akan aku ceritakan kepadamu sebuah kisah, yang apabila engkau menjaganya baik-baik, maka hal itu akan memberikan manfaat bagimu. Namun sebaliknya, apabila engkau mengabaikannya, maka terputuslah hujjahmu di sisi Allah Azza wa Jalla....!

Wahai Mu'adz...Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkati dan Mahatinggi telah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan petala langit dan bumi. Pada setiap langit terdapat satu malaikat penjaga pintunya, dan menjadikan penjaga dari tiap pintu tersebut satu malaikat yang kadarnya disesuaikan dengan keagungan dari tiap tingkatan langitnya.

Suatu hari naiklah malaikat Hafadzah dengan amalan seorang hamba yang amalan tersebut memancarkan cahaya dan bersinar bagaikan matahari. Hingga sampailah amalan tersebut ke langit dunia (as-samaa'I d-dunya) yaitu sampai ke dalam jiwanya. Malaikat Hafadzah kemudian memperbanyak amal tersebut dan mensucikannya.

Namun tatkala sampai pada pintu langit pertama, tiba-tiba malaikat penjaga pintu tersebut berkata, "Tamparlah wajah pemilik amal ini dengan amalannya tersebut!! Aku adalah pemilik ghibah... Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk mencegah setiap hamba yang telah berbuat ghibah di antara manusia -membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan orang lain yang apabila orang itu mengetahuinya, dia tidak suka mendengarnya- untuk dapat melewati pintu langit pertama ini....!!"

Kemudian keesokan harinya malaikat Hafadzah naik ke langit beserta amal shalih seorang hamba lainnya. Amal tersebut bercahaya yang cahayanya terus diperbanyak oleh Hafadzah dan disucikannya, hingga akhirnya dapat menembus ke langit kedua. Namun malaikat penjaga pintu langit kedua tiba-tiba berkata, "Berhenti kalian...! Tamparlah wajah pemilik amal tersebut dengan amalannya itu! Sesungguhnya dia beramal namun dibalik amalannya itu dia menginginkan penampilan duniawi belaka ('aradla d-dunya). Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalan si hamba yang berbuat itu melewati langit dua ini menuju langit berikutnya!
"

Mendengar itu semua, para malaikat pun melaknati si hamba tersebut hingga petang harinya.

Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan sang hamba yang nampak indah, yang di dalamnya terdapat shadaqah, shaum-shaumnya serta perbuatan baiknya yang melimpah. Malaikat Hafadzah pun memperbanyak amal tersebut dan mensucikannya hingga akhirnya dapat menembus langit pertama dan kedua. Namun ketika sampai di pintu langit ketiga, tiba-tiba malaikat penjaga pintu langit tersebut berkata, "Berhentilah kalian...! Tamparkanlah wajah pemilik amalan tersebut dengan amalan-amalannya itu! Aku adalah penjaga al-Kibr (sifat takabur). Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalannya melewatikum, karena selama ini dia selalu bertakabur di hadapan manusia ketika berkumpul dalam setiap
majelis pertemuan mereka...."

Malaikat Hafadzah lainnya naik ke langit demi langit dengan membawa amalan seorang hamba yang tampak berkilauan bagaikan kerlip bintang gemintang dan planet. Suaranya tampak bergema dan tasbihnya bergaung disebabkan oleh ibadah shaum, shalat, haji dan umrah, hingga tampak menembus tiga langit pertama dan sampai ke pintu langit keempat. Namun malaikat penjaga pintu tersebut berkata, "Berhentilah kalian...! Dan tamparkan dengan amalan-amalan tersebut ke wajah pemiliknya..! Aku adalah malaikat penjaga sifat 'ujub (takjub akan keadaan jiwanya sendiri). Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku agar ridak membiarkan amalannya melewatiku hingga menembus langit sesudahku. Dia selalu memasukkan unsur 'ujub di dalam jiwanya ketika melakukan suatu perbuatan...!"

Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan seorang hamba yang diiring bagaikan iringan pengantin wanita menuju suaminya. Hingga sampailah amalan tersebut menembus langit kelima dengan amalannya yang baik berupa jihad, haji dan umrah. Amalan tersebut memiliki cahaya bagaikan sinar matahari. Namun sesampainya di pintu langit kelima tersebut, berkatalah sang malaikat penjaga pintu, "Saya adalah pemilik sifat hasad (dengki). Dia telah berbuat dengki kepada manusia ketika mereka diberi karunia oleh Allah. Dia marah terhadap apa-apa yang telah Allah ridlai dalam ketetapan-Nya. Rabb Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal tersebut melewatiku menunju langit berikutnya...!
"

Malaikat Hafadzah lainnya naik dengan amalan seorang hamba berupa wudlu yang sempurna, shalat yang banyak, shaum-shaumnya, haji dan umrah, hingga sampailah ke langit yang keenam. Namun malaikat penjaga pintu langit keenam berkata, 'Saya adalah pemilik ar-rahmat (kasih sayang). Tamparkanlah amalan si hamba tersebut ke wajah pemilikinya. Dia tidak memilki sifat rahmaniah sama sekali di hadapan manusia. Dia malah merasa senang ketika melihat musibah menimpa hamba lainnya. Rabb Pemeliharaku memerintahkanku untuk tidak membiarkan amalannya melewatiku menuju langit berikutnya...!'

Naiklah malaikat Hafadzah lainnya bersama amalan seorang hamba berupa nafkah yang berlimpah, shaum, shalat, jihad dan sifat wara' (berhati-hati dalam bermal). Amalan tersebut bergemuruh bagaikan guntur dan bersinar bagaikan bagaikan kilatan petir. Namun ketika sampai pada langit yang ketujuh, berhentilah amalan tersebut di hadapan malaikat penjaga pintunya. Malaikat itu berkata, 'Saya adalah pemilik sebutan (adz-dzikru) atau sum'ah (mencintai kemasyhuran) di antara manusia. Sesungguhnya pemilik amal ini berbuat sesuatu karena menginginkan sebutan kebaikan amal perbuatannya di dalam setiap pertemuan. Ingin disanjung di antara kawan-kawannya dan mendapatkan kehormatan di antara para pembesar. Rabb Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amalannya menembus melewati pintu langit ini menuju langit sesudahnya. Dan setiap amal yang tidak diperuntukkan bagi Allah ta'ala secara ikhlas, maka dia telah berbuat riya', dan Allah Azza wa Jalla tidak menerima amalan seseorang yang diiringi dengan riya' tersebut....!'

Dan malaikat Hafadzah lainnya naik beserta amalan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum demi shaum, haji, umrah, akhlak yang berbuahkan hasanah, berdiam diri, berdzikir kepada Allah Ta'ala, maka seluruh malaikat di tujuh langit tersebut beriringan menyertainya hingga terputuslah seluruh hijab dalam menuju Allah Subhanahu. Mereka berhenti di hadapan ar-Rabb yang Keagungan-Nya (sifat Jalal-Nya) bertajalli. Dan para malaikat tersebut menyaksikan amal sang hamba itu merupakan amal shalih yang diikhlaskannya hanya bagi Allah Ta'ala.

Namun tanpa disangka Allah berfirman, 'Kalian adalah malaikat Hafadzah yang menjaga amal-amal hamba-Ku, dan Aku adalah Sang Pengawas, yang memiliki kemampuan dalam mengamati apa-apa yang ada di dalam jiwanya. Sesungguhnya dengan amalannya itu, sebenarnya dia tidak menginginkan Aku. Dia menginginkan selain Aku...! Dia tidak mengikhlaskan amalannya bagi-Ku. Dan Aku Maha Mengetahui terhadap apa yang dia inginkan dari amalannya tersebut. Laknatku bagi dia yang telah menipu makhluk lainnya dan kalian semua, namun Aku sama sekali tidak tertipu olehnya. Dan Aku adalah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib, Yang memunculkan apa-apa yang tersimpan di dalam kalbu-kalbu. Tidak ada satu pun di hadapan-Ku yang tersembunyi, dan tidak ada yang samar di hadapan-Ku terhadap segala yang tersamar..... Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang belum terjadi. Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah berlalu sama dengan pengetahuan-Ku terhadap yang akan datang. Dan pengetahuan-Ku terhadap segala sesuatu yang awal sebagaimana pengetahuan-Ku terhadap segala yang akhir. Aku lebih mengetahui sesuatu yang rahasia dan tersembunyi. Bagaimana mungkin hamba-Ku menipu-Ku dengan ilmunya. Sesungguhnya dia hanyalah menipu para makhluk yang tidak memiliki pengetahuan, dan Aku Maha Mengetahui segala yang ghaib. Baginya laknat-Ku....!!

Mendengar itu semua maka berkatalah para malaikat penjaga tujuh langit beserta tiga ribu pengiringnya, 'Wahai Rabb Pemelihara kami, baginya laknat-Mu dan laknat kami. Dan berkatalah seluruh petala langit, 'Laknat Allah baginya dan laknat mereka yang melaknat buat sang hamba itu..!
Mendengar penuturan Rasulullah Saw. sedemikian rupa, tiba-tiba menangislah Mu'adz Rahimahullah, dengan isak tangisnya yang cukup keras...Lama baru terdiam kemudian dia berkata dengan lirihnya, "Wahai Rasulullah......Bagaimana bisa aku selamat dari apa-apa yang telah engkau ceritakan tadi...??"
Rasulullah bersabda, "Oleh karena itu wahai Mu'adz.....Ikutilah Nabimu di dalam sebuah keyakinan...".
Dengan suara yang bergetar Mu'adz berkata, "Engkau adalah Rasul Allah, dan aku hanyalah seorang Mu'adz bin Jabal....Bagaimana aku bisa selamat dan lolos dari itu semua...??"
Nabi yang suci bersabda, "Baiklah wahai Mu'adz, apabila engkau merasa kurang sempurna dalam melakukan semua amalanmu itu, maka cegahlah lidahmu dari ucapan ghibah dan fitnah terhadap sesama manusia, khususnya terhadap saudara-saudaramu yang sama-sama memegang Alquran. Apabila engkau hendak berbuat ghibah atau memfitnah orang lain, haruslah ingat kepada pertanggungjawaban jiwamu sendiri, sebagaimana engkau telah mengetahui bahwa dalam jiwamu pun penuh dengan aib-aib. Janganlah engkau mensucikan jiwamu dengan cara menjelek-jelekkan orang lain. Jangan angkat derajat jiwamu dengan cara menekan orang lain. Janganlah tenggelam di dalam memasuki urusan dunia sehingga hal itu dapat melupakan urusan akhiratmu. Dan janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang, padahal di sebelahmu terdapat orang lain yang tidak diikutsertakan. Jangan merasa dirimu agung dan terhormat di hadapan manusia, karena hal itu akan membuat habis terputus nilai kebaikan-kebaikanmu di dunia dan akhirat. Janganlah berbuat keji di dalam majelis pertemuanmu sehingga akibatnya mereka akan menjauhimu karena buruknya akhlakmu. Janganlah engkau ungkit-ungkit kebaikanmu di hadapan orang lain. Janganlah engkau robek orang-orang dengan lidahmu yang akibatnya engkau pun akan dirobek-robek oleh anjing-anjing Jahannam, sebagaimana firman-Nya Ta'ala, "Demi yang merobek-robek dengan merobek yang sebenar-benarnya..." (QS An-Naaziyat [79]: 2) Di neraka itu, daging akan dirobek hingga mencapat tulang........
Mendengar penuturan Nabi sedemikian itu, Mu'adz kembali bertanya dengan suaranya yang semakin lirih, "Wahai Rasulullah, Siapa sebenarnya yang akan mampu melakukan itu semua....??"
"Wahai Mu'adz...! Sebenarnya apa-apa yang telah aku paparkan tadi dengan segala penjelasnnya serta cara-cara menghindari bahayanya itu semua akan sangat mudah bagi dia yang dimudahkan oleh Allah Ta'ala.... Oleh karena itu cukuplah bagimu mencintai sesama manusia, sebagaimana engkau mencintai jiwamu sendiri, dan engkau membenci mereka sebagaimana jiwamu membencinya. Dengan itu semua niscaya engkau akan mampu dan selamat dalam menempuhnya.....!!"
Khalid bin Ma'dan kemudian berkata bahwa Mu'adz bin Jabal sangat sering membaca hadits tersebut sebagaimana seringnya beliau membaca Alquran, dan sering mempelajarinya serta menjagaanya sebagaimana beliau mempelajari dan menjaga Alquran di dalam majelis pertemuannya.
Al-Ghazali Rahimahullah kemudian berkata, "Setelah kalian mendengar hadits yang sedemikian luhur beritanya, sedemikian besar bahayanya, atsarnya yang sungguh menggetarkan, serasa akan terbang bila hati mendengarnya serta meresahkan akal dan menyempitkan dada yang kini penuh dengan huru-hara yang mencekam. Kalian harus berlindung kepada Rabb-mu, Pemelihara Seru Sekalian Alam. Berdiam diri di ujung sebuah pintu taubat, mudah-mudahan kalbumu akan dibuka oleh Allah dengan lemah lembut, merendahkan diri dan berdoa, menjerit dan menangis semalaman. Juga di siang hari bersama orang-orang yang merendahkan diri, yang menjerit dan selalu berdoa kepada Allah Ta'ala. Sebab itu semua adalah sebuah persoalan bersar dalam hidupmu yang kalian tidak akan selamat darinya melainkan disebabkan atas pertolongan dan rahmat Allah Ta'ala semata. Dan tidak akan bisa selamat dari tenggelamnya di lautan ini kecuali dengan hadirnya hidayah, taufiq serta inayah-Nya semata.
Bangunlah kalian dari lengahnya orang-orang yang lengah. Urusan ini harus benar-benar diperhatikan oleh kalian. Lawanlah hawa nafsumu dalam tanjakan yang menakutkan ini. Mudah-mudahan kalian tidak akan celaka bersama orang-orang yang celaka. Dan mohonlah pertolongan hanya kepada Allah Ta'ala, kapan saja dan dalam kadaan bagaimanapun. Dialah yang Maha Menolong dengan sebaik-baiknya dari Yang Paling belas kasih.
Wa laa haula wa laa quwwata illa billaah.......

Al haqquminallah wa khoto mini ( Kesempurnaan datangnya dari Allah dan kekurangan datangnya dari saya pribadi ) afwan minkum maafkan akhwatul iman

“Unzhur mâ qâla wa lâ tanzhur man qâla.”
(Prhatikanlah apa yang dikatakan dan janganlah kau prhatikan siapa yg mngatakan)
Jazakumullah (Nur Kaffah Ahkam)

Rabu, 21 Maret 2012

•• Surat FATIMAH di Penjara Abu Gharib ••

Saudaraku seiman wabil khusus engkau para ikhwan
lihatlah kami para perempuan butuh perlindunganmu


Apa Yang Kau Nikmati didalam sini Bukanlah mimpi..
Yang Kau Lihat Bukan hanya sebuah Ilusi..
Lihatlah Kembali..


Wahai akhi,..
Bukankah Aku Tercipta dari Tulang Rusukmu??
Bukankah Aku Tercipta Untuk Kau Lindungi??
Bukan Untuk Kau Tangisi..
Tapi Mengapa...
Kepalan Tanganmu Yang diciptakan Lillah Lebih kuat dariku..
Tak Mampu Menjaga Kehormatan ini??
Bukankah Allah Memberikan Fisik, akal dan Kekuatan Lebih dari apa yang aku Punya..

Masihkah Kau Mencintaiku wahai Adam??
Akankah Kalian Lupa,
Bagaimana Para Khulafaur Rasyidin dengan Gagah Mempertaruhkan Nyawa demi Kehormatan Ku.
Tapi kini..
Apa yang terjadi..??
Kalian Lari..
Kalian Pergi..
Seakan Tak Mengenalku.
Bukankah Kita dilahirkan dari Rahim Yang sama..
Tapi Kenapa...Kenapa..
Kalian Sibuk dengan Urusan Kalian sendiri..

Lihatlah aku...
bukan.. Jangan Hanya kau lirik..
Lihatlah Aku..
bukan, Jangan Hanya Simpatik..
Aku..
Tak Butuh Dengan Hasil Pengemis Perdamaian.
Aku..
Tak Butuh dengan Bualan Kepedulian..
Yang Ku Butuhkan KAU..
Wahai Ikhwan..KAU..

Aku Menunggu Untuk Membai'atmu..
Bawalah Aku dan Aku Lainnya Ke Alam Nyata yang damai.
Damai Dengan Syariah dan Khilafah..

Masihkah Kau Mencintaiku..
Cintailah Aku, seperti Kau Mencintai Istri-istrimu,
Ibu-ibumu.. dan Anak-anak Perempuanmu..
Karena Kami Adalah Saudaramu..
Kami Adalah Tulang Rusukmu..

(NUR KAFFAH AHKAM)


Maka Bacalah Surat dari Aku,
Yang Terkurung Dalam Kenistaan Sistem Sampah Ini..

Fathimah
Jum’at 14 Desember 2004



بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

 قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, Dan tiada seorangpun yang setara dengan-Nya.”(QS. Al-Ikhlas: 1-4)


Fatimah adalah seorang saudara perempuan seorang mujahid yang terkenal di daerah Abu Gharib, yang berasal dari sebuah keluarga yang terkenal kebaikan dan ketaqwaannya. Suatu hari pasukan AS menyerbu rumahnya, dengan tujuan menangkap saudaranya. Namun karena mereka tidak dapat menemukannya, pasukan AS menangkap Fatimah dengan tujuan memaksa saudaranya menyerahkan diri.
Surat tulisan tangan Fatimah, baru-baru ini berhasil diselundupkan keluar dari penjara Abu Gharib, surat ini menggambarkan penderitaan para tawanan wanita akibat perbuatan terntara AS. Segera surat ini tersebar dan menghebohkan kota Baghdad, mengirimkan gelombang yang akan terus berlanjut ke seluruh Iraq.
Mafkarat al-Islam berhasil mendapatkan salinan surat tersebut.

Aku memilih surat yang mulia ini dari kitab Allah, karena surat ini sangat berkesan pada diriku dan diri kalian. Dan surat ini menimbulkan kedamaian, khususnya bagi orang -orang yang beriman.

Saudara- saudaraku para mujahidin di jalan Allah,..Apa yang dapat aku katakan kepada kalian?? Haruskah Aku katakan kepada kalian bahwa Rahim-rahim kami telah dipenuhi janin-janin perzinaan dengan para keturunan kera dan babi yang telah memperkosa kami, dan aku katakan kepada kalian, mereka telah merusak tubuh kami, mereka meludahi muka kami dan merobek- robek lembaran- lembaran al-Quran yang ada dipelukan kami?

Allahu Akbar.!!! Allahu Akbar.!!!

Tidakkah kalian memahami keadaan kami?? ataukah kalian benar-benar tidak mengetahui keadaan kami?

Kami adalah saudari -saudari kalian. dan Allah pasti akan menghisab dan meminta pertanggung jawaban kalian pada hari esok (di padang mahsyar) tentang diri kami.

Demi Allah, tidak ada satu malam-pun yang kami lalui di penjara Abu Ghuraib, kecuali tentara keturunan kera dan babi itu pasti menyiksa dan memperkosa kami.

Takutlah kalian kepada Allah!! Bunuhlah dan hancurkanlah kami bersama mereka, dan janganlah kalian membiarkan kami menjadi permainan mereka.

Takutlah kalian kepada Allah atas apa yang menimpa kami. Tinggalkanlah tank- tank dan pesawat mereka yang ada di luar sana dan arahkanlah senjata kalian kepada kami di sini (Penjara Abu Ghraib)!! Agar kami bisa beristirahat.

Aku (Fatimah) adalah saudari perempuan kalian. Mereka memperlakukan kami sungguh sangat tidak manusiawi, tidak kurang dari 9 (sembilan ) kali mereka memperkosa kami dalam satu hari dengan bengisnya. Apakah kalian tidak berakal ?

Seandainya kejadian ini menimpa saudara perempuan kandung kalian, apa yang akan kalian lakukan?? Kenapa kalian tidak berfikir bahwa aku ini saudari kalian?? Kenapa kalian tidak menganggap aku sebagai saudari kalian??

Dan sekarang Aku bersamaku 13 ( tiga belas) orang yang semuanya masih gadis dan masih terjaga keperawanannya.

Mereka diperkosa dengan cara yang biadab didepan mata kami semua. Mereka melarang kami menegakkan sholat, mereka telanjangi kami dan mereka juga melarang kami memakai pakaian .

Ketika aku menulis surat ini kepada kalian, salah seorang saudari kalian bunuh diri, dengan cara membenturkan kepalanya ke dinding sampai mati. Hal itu terjadi, karena dia tidak kuat menanggung derita setelah di perkosa dan di pukul dibagian dada dan pahanya dengan cara yang amat keji dan tidak masuk akal serta diancam akan dibunuh oleh seorang tentara keturunan kera dan babi.

Meskipun Islam mengharamkan bunuh diri. Akan tetapi aku memakluminya dan aku memohon kepada Allah agar berkenan mengampuninya, karena Allah Maha Pengasih lagi Maha penyayang.

Saudara- saudaraku, Aku sampaikan kepada kalian sekali lagi. Takutlah kalian kepada Allah dan bunuhlah kami bersama mereka agar kami bisa beristirahat dari segala siksaan ini.

 

Rabu, 29 Februari 2012

•• Aku tak lebih dahulu ke Syurga ••

         
oleh Nur Kaffah pada 5 April 2011 pukul 20:26 ·

    بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Sebuah Muhasabah ( Renungan ) buat kita semua, tidak banyak kata yang ingin saya sampaikan namun silahkan sahabat fillah mengambil hikmah yang ada dalam note ini. Selamat Membaca

Aku tidak tahu dimana berada. Meski sekian banyak manusia berada disekelilingku, namun aku tetap merasa sendiri dan ketakutan. Aku masih bertanya dan terus bertanya, tempat apa ini, dan buat apa semua manusia dikumpulkan. Mungkinkah, ah aku tidak mau mengira-ngira.

Rasa takutku makin menjadi-jadi, tatkala seseorang yang tidak pernah kukenal sebelumnya mendekati dan menjawab pertanyaan hatiku. "Inilah yang disebut Padang Mahsyar," suaranya begitu menggetarkan jiwaku. "Bagaimana ia bisa tahu pertanyaanku," batinku. Aku menggigil, tubuhku terasa lemas, mataku tegang mencari perlindungan dari seseorang yang kukenal.

Kusaksikan langit menghitam, sesaat kemudian bersinar kemilauan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara menggema. Aku baru sadar, inilah hari penentuan, hari dimana semua manusia akan menerima keputusan akan balasan dari amalnya selama hidup didunia. Hari ini pula akan ditentukan nasib manusia selanjutnya, surgakah yang akan dinikmati atau adzab neraka yang siap menanti.

Aku semakin takut. Namun ada debar dalam dadaku mengingat amal-amal baikku didunia. Mungkinkah aku tergolong orang-orang yang mendapat kasih-Nya atau jangan-jangan .........


Aku dan semua manusia lainnya masih menunggu keputusan dari Yang menguasai hari pembalasan. Tak lama kemudian, terdengar lagi suara menggema tadi yang mengatakan, bahwa sesaat lagi akan dibacakan daftar manusia-manusia yang akan menemani Rasulullah SAW di surga yang indah. Lagi-lagi dadaku berdebar, ada keyakinan bahwa namaku termasuk dalam daftar itu, mengingat banyaknya infaq yang aku sedekahkan. Terlebih lagi, sewaktu didunia aku dikenal sebagai juru dakwah. "Kalaulah banyak orang yang kudakwahi masuk surga, apalagi aku," pikirku mantap.

Akhirnya, nama-nama itupun mulai disebutkan. Aku masih beranggapan bahwa namaku ada dalam deretan penghuni surga itu, mengingat ibadah-ibadah dan perbuatan-perbuatan baikku. Dalam daftar itu, nama Rasulullah Muhammad SAW sudah pasti tercantum pada urutan teratas, sesuai janji Allah melalui Jibril, bahwa tidak satupun jiwa yang masuk kedalam surga sebelum Muhammad masuk. Setelah itu tersebutlah para Assabiquunal Awwaluun. Kulihat Fatimah Az Zahra dengan senyum manisnya melangkah bahagia sebagai wanita pertama yang ke surga, diikuti para istri-istri dan keluarga rasul lainnya.


Para nabi dan rasul Allah lainnya pun masuk dalam daftar tersebut. Yasir dan Sumayyah berjalan tenang dengan predikat Syahid dan syahidah pertama dalam Islam. Juga para sahabat lainnya, satu persatu para pengikut terdahulu Rasul itu dengan bangga melangkah ke tempat dimana Allah akan membuka tabirnya. Yang aku tahu, salah satu kenikmatan yang akan diterima para penghuni surga adalah melihat wajah Allah. Kusaksikan para sahabat Muhajirin dan Anshor yang tengah bersyukur mendapatkan nikmat tiada terhingga sebagai balasan kesetiaan berjuang bersama Muhammad menegakkan risalah. Setelah itu tersebutlah para mukminin terdahulu dan para syuhada dalam berbagai perjuangan pembelaan agama Allah.

Sementara itu, dadaku berdegub keras menunggu giliran. Aku terperanjat begitu melihat rombongan anak-anak yatim dengan riang berlari untuk segera menikmati kesegaran telaga kautsar. Beberapa dari mereka tersenyum sambil melambaikan tangannya kepadaku. Sepertinya aku kenal mereka. Ya Allah, mereka anak-anak yatim sebelah rumahku yang tidak pernah kuperhatikan. Anak-anak yang selalu menangis kelaparan dimalam hari sementara sering kubuang sebagian makanan yang tak habis kumakan.

"Subhanallah, itu si Parmin tukang mie dekat kantorku," aku terperangah melihatnya melenggang ke surga. Parmin, pemuda yang tidak pernah lulus SD itu pernah bercerita, bahwa sebagian besar hasil dagangnya ia kririmkan untuk ibu dan biaya sekolah empat adiknya. Parmin yang rajin sholat itu, rela berpuasa berhari-hari asal ibu dan adik-adiknya di kampung tidak kelaparan. Tiba-tiba, orang yang sejak tadi disampingku berkata lagi, "Parmin yang tukang mie itu lebih baik dimata Allah. Ia bekerja untuk kebahagiaan orang lain." Sementara aku, semua hasil keringatku semata untuk keperluanku.

Lalu berturut-turut lewat didepan mataku, mbok Darmi penjual pecel yang kehadirannya selalu kutolak, pengemis yang setiap hari lewat depan rumah dan selalu mendapatkan kata "maaf" dari bibirku dibalik pagar tinggi rumahku. Orang disampingku berbicara lagi seolah menjawab setiap pertanyaanku meski tidak kulontarkan, "Mereka ihklas, tidak sakit hati serta tidak memendam kebencian meski kau tolak."

Masya Allah murid-murid pengajian yang aku bina, mereka mendahuluiku ke surga. Setelah itu, berbondong-bondong jamaah masjid-masjid tempat biasa aku berceramah. "Mereka belajar kepadamu, lalu mereka amalkan. Sedangkan kau, terlalu banyak berbicara dan sedikit mendengarkan. Padahal, lebih banyak yang bisa dipelajari dengan mendengar dari pada berbicara," jelasnya lagi.
Aku semakin penasaran dan terus menunggu giliranku dipanggil. Seiring dengan itu antrian manusia-manusia dengan wajah ceria, makin panjang. Tapi sejauh ini, belum juga namaku terpanggil. Aku mulai kesal, aku ingin segera bertemu Allah dan berkata, "Ya Allah, didunia aku banyak melakukan ibadah, aku bershodaqoh, banyak membantu orang lain, banyak berdakwah, izinkan aku ke surgaMu."

Orang dengan wajah bersinar disampingku itu hendak berbicara lagi, aku ingin menolaknya. Tetapi, tanganku tak kuasa menahannya untuk berbicara. "Ibadahmu bukan untuk Allah, tapi semata untuk kepentinganmu mendapatkan surga Allah, shodaqohmu sebatas untuk memperjelas status sosial, dibalik bantuanmu tersimpan keinginan mendapatkan penghargaan, dan dakwah yang kau lakukan hanya berbekas untuk orang lain, tidak untukmu," bergetar tubuhku mendengarnya.

Anak-anak yatim, Parmin, mbok Darmi, pengemis tua, murid-murid pengajian, jamaah masjid dan banyak lagi orang-orang yang sering kuanggap tidak lebih baik dariku, mereka lebih dulu ke surga Allah. Padahal, aku sering beranggapan, surga adalah balasan yang pantas untukku atas dakwah yang kulakukan, infaq yang kuberikan, ilmu yang kuajarkan dan perbuatan baik lainnya. Ternyata, aku tidak lebih tunduk dari pada mereka, tidak lebih ikhlas dalam beramal dari pada mereka, tidak lebih bersih hati dari pada mereka, sehingga aku tidak lebih dulu ke surga dari mereka.
Termasuk Manakah Anda ?

Alaram berdentang tiga kali. Aku tersentak bangun dan, astaghfirullah  ternyata Allah telah menasihatiku lewat mimpi tidurku tadi yang seakan membangunkanku dari kelelahan ini.


Al haqquminallah wa khoto mini
( Kesempurnaan datangnya dari Allah dan kekurangan datangnya dari saya pribadi )

“Unzhur mâ qâla wa lâ tanzhur man qâla.”
(Prhatikanlah apa yang dikatakan dan janganlah kau prhatikan siapa yg mngatakan)




Nb : Mohon maaf jika ada salah penulisan kata/bahasa saya hanya manusia biasa ^_^V maaf ya

Jumat, 10 Februari 2012

(¯`•.¸ღ Kado Terindah Kami ! ღ¸.•´¯)



oleh Ai Kaffah pada 23 November 2011 pukul 20:41 ·
-»•¸¸.•.¸¸❤❤¸¸.•.¸¸❤❤¸¸.•.¸¸•»
Ungkapan Hatiku..

Bismillah..
Orang tuamu, Orang tuaku, Orang tua kita..
Dirimu dan Diriku menjadi Kita..
hubungan yang terjalin bukan hanya antara kau dan aku
tapi antara kau dengan keluargaku demikian pula aku dengan keluargamu
Jangan pernah bicara bahtera pernikahan yang seiring terlontar di banyak kalangan
kalau kita sendiri belum punya persiapan..
bukan hanya fisik namun ilmu kerna rumah tangga kita bukan dijalani hanya dalam
hitungan 1 atau 2 hari, 1 atau 2 bulan bahkan 1 atau 2 tahun kerna kita menikah menghalalkan agar menjadi ibadah bukan seperti pacaran hingga sesuka hati putus nyambung lalu balikan lagi, jangan permainankan ikatan ini kerna kau halalkan aku dihadapan Allah Tuhan kita, dan kuterima kau sebagai imamku juga di hadapan Allah Tuhan kita. tapi ku berharap cinta akan tetap ada sampai aku atau kau menutup mata selamanya.
Cinta ibarat Bangunan yang kita dirikan bersama, sejauhmana kekokohan bangunan itu sampai ia membentuk rumah impian kita yakni Baiti Jannati..
yang di huni oleh generasi pencinta Qur'ani dan hadis sebagai tuntunan hidup kita.
Yang ku inginkan Bukanlah ikatan yang terjalin dari sebuah kemaksiatan sengaja dihalal-halalkan
Namun sebuah komitmen untuk membangun bersama menjadi ummat terbaik disisi-Nya
Akanku lakukan Jika itu adalah sebuah pilihan walau menunggu adalah jawabanya
Kerna tak sembarangan kupilihkan abi bagi generasi rabbaniku kelak
Pilihlah pasanganmu atas kriteria yang sudah ditentukan Allah swt.

Yang Mencintaimu

-Nur Kaffah-
---------------------------------------------------------------------------------------------------------


(¯`•.¸Kado Terindah Kami!¸.•´¯)

Bismillahirrahmanirrahiim..

"Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.
Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.
Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.[QS.Al Mu'minuun (23) ayat 13-14]"


Saudariku fillah yang berbahagia
Rasanya tak bisa ku bendung kebahagiaan ini,hari yang penuh berkah bagi kami berdua
Amanah terindah..Subhanallah ^_^
Kini kusapa dengan senyum simpulku pagi itu...senyum sederhana ala akhwatul iman :D

Wahai Allah Tuhanku yang telah menyatukanku dengannya
inikah kado terindah untukku...
Setelah kusempurnakan Dien-ku bersamanya
terkejut..hampir gak percaya akan anugrah yang terlalu indah bagiku ini...
segala puji bagi-NYA..kini aku positif hamil..
Rumus masa subur yang ku lewati..kini berbuah sempurna..hihi ^_^
terang saja kenyataan ini menyiratkan rona bahagia di wajah kami,aku dan dirinya
tak henti2nya mengucap syukur tak terhingga pada-NYA atas karunia ini.
kondisi rahim yang sehat dan keluhan muntah-muntah dan sebagainya...cukup lengkapi kebahagiaan kami

Perhatian istimewa bak Ratu kini mewarnai hari-hariku..
Pemilik tulang rusukku..kerja cintanya penuh keikhlasan..
Memberikan pendamping yang tak sekedar fisik,tapi juga kejiwaan..
Dorongan dan motivasi tiada henti.
Sadar akan kondisi kejiwaanku ketika hamil sangatlah mempengaruhi perkembangan janin dalam rahim ini.
Urusan nyawa sebuah generasi kami sendiri adalah utama
Calon mujahid-mujahidah tangguh yang siap membela agama-NYA di garda terdepan,patut kami jaga dengan sebaik muingkin.
Hanya tawakal yang paling tepat bagi kami insan yang tak punya qudrat dan irodat ini.

Wa kafaa billahi syahidaa...
cukup Allah sebagai saksi..
Selamat Datang Amanah-MU...

Dengan membuka Azzam baru tlah ku singkap denga penuh perhatian..
moga kelak hari pertanggung-jawaban itu datang,kami dah siap tuk berikan laporan atas amanat yang berat lagi mulia ini. Menopang dengan do'a yang terkirim dalam sujudku..

"Robbi habli minladunka dzurriyatan thayyibatan, innaka samii uddu aa"
Ya Roobb, berilah aku disisi-MU anak yang baik,sesungguhnya Engkau maha pendengar doa
(QS.Ali Imron 38)

Alhamdulillah yah penguni Rumah Cinta di Baiti Jannati bertambah indah
Lengkaplah bagiku menjadi ustadzah di Pesona Cinta Al-Qur’an dengan memberikan pendidikan Prenatal(Pendidikan waktu masih di janin) haruslah lebih berhati-hati, karena muridku yang di titipan Allah ini penting bagiku sebagai pendidikan pertama baginya(Madrasatul Ula)
Memperkenalkan Rabb di detakan Jantungan pertamanya haruslah menjadi rencana awalku hingga kelak ia bisa seperti abi dan umminya yang menjadikan Al-Qur’an sebagai teman bagi kehidupan. Dengan penuh cinta kukatakan pada suami..Saatnya membangun Keluarga Haroki :D hihi.. Ahlan wa Sahlan Ya Ba’ah Qowwiyah..anak ku cintaku :*


Salam Cinta saudarimu

Nur Kaffah & Iman Zaidd


Nb.sikit copas iva soraya habibaty kangen suangat sama dia..

· · · Bagikan · Hapus

linkWith

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...